“Wah,
wah, Den, kalau saja kita rajin menulis apa yang disampaikan Bu Lina tiap kali
pertemuan, sudah bisa jadi buku tuh,” celetuk Ryan.
“Tahu
tuh Bu Lina. Dikiranya kita masih anak TK apa?” sahut Deny.
“Hahaha...
Bu Lina itu nggak cocok jadi guru IPS, cocoknya tuh jadi pendongeng TK.
Hahaha...” kelakar Ryan.
“Hahaha...
Bisa aja Lu.”
Kali
ini mereka kenyang dengan dongeng “Sangkuriang” dua jam pelajaran penuh.
“Eh,
nanti malam jadi ikutan ngaji nggak?”
tanya Denny sambil menarik kursi untuk diduduki setelah selesai memesan
bakso.
“Jadi
lah. Itu kan buat suplemen keimanan gue biar nggak mlempem,” sambil menerima
uluran bakso Mbok Ijah- petugas kantin. “Lu gimana?”
“Kalau
gue ikutan Lu aja sih. Tapi keren kok penjelasan ustadz Ahmad. Apalagi yang
minggu lalu,” menumpahkan saos ke mangkok bakso. “yang tentang perintah untuk
fokus pada satu ... ,”mengembalikan botol saos, meraba lagi mencari kecap-
tidak ada. Menoleh dan sempurna tertegun dengan akhwat di seberang meja. Ups.
“Maukah
adinda menjadi istri kakanda?” Seorang laki-laki tanggung merayu seorang
perempuan berparas menawan. Nyanyian kicau burung emprit dan gereja menambah
suasana romantis (setting: taman).
“Kakanda,
maukah melakukan sesuatu untuk membuktikan cinta kakanda kepada adinda?”
Perempuan itu menundukan wajahnya yang memerah merona.
“Apa
pun yang Adinda ingingkan akan Kakanda lakukan asal Adinda berkenan memarkirkan
cinta Kakanda di hati Adinda.” Suara bising batuk knalpot kendaraan membuat
suasana romantis semakin ‘terasa’ (setting: taman di pinggiran Jakarta).
“Tolong
buatkan Adinda satu buah kapal Titanic untuk nantinya kita pakai mengarungi
mahligai cinta kita. Adinda tunggu sampai suara Adzan shubuh Kang Leman
berkumandang di hari ke tujuh (tadinya sih suara kokok ayam seperti di dalam
cerita. Tapi, berhubung settingnya di Jakarta, mana masih ada suara kokok
ayam?).”
“Baiklah,
akan Kakanda lakukan demi Adinda.” Pemuda itu menyanggupi. Menelan ludah-juga
keringat dingin.
Sayangnya,
ini bukan seperti di cerita-cerita yang sering kita dengar sewaktu kecil. Si
Pemuda tidak mempunyai bala tentara jin-jin yang akan membantunya. Alhasil,
akhirnya si pemuda memanggil tujuh kawannya: Ryan, Luki, Dira, Arman, Aryo,
Hilman, Dian- yang notabene adalah pemuda-pemuda dengan semangat tinggi- buktinya
mereka aktif dalam berbagai organisasi.
Hari
Pertama
Semua
berkumpul di tempat dan waktu yang sudah disepakati. Bertekad untuk
mensukseskan keinginan si Pemuda untuk membuat satu buah kapal Titanic. Blue-print di gelar dan dibahas. Masing-masing
sudah tugaskan satu pekerjaan. Pagi ini mereka mulai bekerja.
Hari
Ke- dua
Semua
masih berjalan sesuai rencana. Kerangka dasar kapal sudah beres.
Hari
Ke-tiga
Si
Pemuda tersenyum puas. Geladak kapal sudah jadi. Ia optimis misi ini akan
sukses. Tersenyum membayangkan Adinda memakai kebaya pengantin.
Hari
Ke-empat
Pekerjaan
sudah mencapai tujuh puluh lima persen. Bahkan lebih cepat dari target yang
sudah ditetapkan. Malam ini mereka beristirahat lebih cepat.
Hari
ke-Lima
Hilman,
Aryo, dan Dian izin karena ada kegiatan lain yang harus diurus. Si Pemuda
mengizinkan, berpikir pekerjaan ini pasti akan selesai pada waktu yang sudah
ditetntukan.
Hari
ke-enam
Luki,
Dira, dan Arman ikut-ikutan izin. Sudah merasa bosan- mengada-adakan kegiatan
lain sebagai alasan. Hanya Ryan sebagai sahabat si Pemuda yang masih setia
mengerjakan. Toh, tinggal sepuluh persen lagi. Si Pemuda yakin besok akan
selesai.
Hari
ke-tujuh
Si
Pemuda geram. Ia menyuruh Ryan mengundang teman-temannya untuk menyelesaikan
pekerjaan hari ini juga. Mereka akhirnya berkumpul dengan ekspresi wajah yang
hampir sama- bosan. Akan tetapi, demi melihat ekspresi wajah memelas si Pemuda,
mereka bersedia melanjutkan.
Jam
tiga dini hari, luar biasa! Pekerjaan sudah usai. Kapal Titanic itu sudah gagah
berdiri.. Sungguh mempesona. Mereka berpesta. Tinggal menunggu waktu, Adinda
berparas cantik itu akan tertegun menerima pinangan si Pemuda.
Jam
empat lebih lima belas menit dini hari. Kang Leman mengumandangkan adzan
shubuh. Adinda sudah berdiri mengenakan kebaya pengantin, sudah siap jika hari
ini pernikahan akan langsung diselenggarakan. “Duh, Tuhan, betapa sempurnanya
Engkau menciptakan wanita berparas cantik seperti Adinda yang di hadapanku saat
ini.” Si Pemuda tersenyum bangga. Puas. Ia menjemput Adinda dan menuntunnya
naik ke atas kapal. Sungguh romantis jika kita bisa membayangkan betapa
memerahnya wajah Adinda.
“Adinda,
Kakanda sudah siap menjadi nahkoda yang akan menemani Adinda kemana pun pergi.”
Ucapan itu disambut dengan tepuk tangan meriah teman-temannya.
“Kakanda,
untuk pertama kali Adinda inigin mengunjungi Pulau Tidung.”
“Baiklah,
Dinda.” Si Pemuda gagah memegang kemudi. Bersiap menyalakan mesin. Menarik tuas
kendali dengan semangat. Hening. Mencoba menarik lagi. Masih sama. Cemas.
“Oh
ya, mesinnya belum dipasang!” teriak Ryan dari bawah.
Si
Pemuda terkejut. Sangat geram. Bagaimanalah ini, padahal tinggal selangkah lagi
mimpi pernikahan itu akan terlaksana. Ia tidak bisa terima. Murka. Menendang
kapalnya hingga tertelungkup.
“TIDAAAAAKKK!”
“Den.
Sadar, Den!” Ryan masih memukuli bahu Denny untuk menyadarkannya.
Denny
pun akhirnya sadar, tergagap bangun. “Astaghfirullah.” Matanya langsung mencari
sesuatu di seberang meja. Sudah tidak ada.
***
Hayo
ngaku, siapa nih yang pernah mengalami hal serupa seperti si Denny?
Membayangkan bisa menjadi seorang pahlawan bagi orang yang sedang ditaksirnya.
Bisa melakukan apa saja yang diinginkan oleh orang tersebut. Wah, atau
jangan-jangan ini cuma pengalaman pribadi penulis sendiri nih, hehe...
Tapi
disini penulis tidak ingin membahas masalah imajinasi itu, tapi cuma ingin
menyampaikan pesan dari Ustadz Adnin Armas (Dir. Eksekutif INSISTS) yang kamis
kemarin (15/11/2012) penulis berkesempatan silaturahmi dengan beliau bersama
kader KAMMI Madani yang lain.
“Masing-masing kita kan menggeluti bidang yang
berbeda. Jadilah yang terbaik di bidang itu.
Itu yang penting. Itu tugas utama,”
nasehat Ustadz Adnin
Paham kan intinya? Jadi, kita nggak perlu berpusing
ria mengkhayal melakukan sesuatu yang sebenarnya kita belum tentu bisa
melakukannya dengan baik, berusaha memberikan peran yang besar di luar bidang
kita yang ujung-ujungnya ‘mentok’ di tengah jalan. Juga tidak perlu memaksa
orang lain untuk mengerjakan sesuatu yang bukan bidangnya, hingga
ujung-ujungnya tidak sepenuh hati mengerjakannya, kaya teman-teman pemuda dalam
cerita tadi. Karena sebenarnya, apapun bidang yang sedang kita geluti sekarang,
jika dijalani dengan tekun dan diamalkan dalam masyarakat dengan niat yang
sungguh-sungguh, pasti itu akan membawa manfaat yang besar bagi diri kita
sendiri dan lingkungan di sekitar kita. So,
just be and do the best that you can!
Jakarta, 8 Juni 2015

Komentar
Posting Komentar