Minggu, 10 Mei 2015, FLP Jakarta kembali
mengadakan pelatihan bagi pramuda angkatan 19 bertempat di Masjid Baitul Hasib
Komplek Kantor BPK RI. Dalam pertemuan ini, Pak Arya- yang juga menjabat
sebagai ketua FLP periode 2015-2017, menjadi pemateri dan membagikan ilmu serta
tips untuk membuat ‘sup ayam’ yang gurih dan nikmat (jadi laper kan kalau ngomongin makanan?). Eits, jangan salah dulu ya. ‘Sup Ayam’ yang penulis maksud lebih
tenar dikenal dengan istilah Chicken Soup.
Yaps, chicken soup adalah istilah yang digunakan untuk tulisan-tulisan
yang menceritakan kisah inspiratif. Harapannya, setelah membacanya, pembaca
menjadi segar dan termotivasi kembali layaknya meneguk kuah sup yang segar dan gurih
(nyam nyam nyam).
Dalam petermuan ini kurang lebihnya ada dua
puluhan pramuda yang hadir. Acara sendiri di moderator oleh Nur Afilin. Setelah
pembukaan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, Chef Arya mulai membagikan tips membuat ‘sup ayam’ yang gurih.
Penasaran kan? Yuk simak tips yang
sempat penulis catat di bawah ini. Cekidot,
guys!
Kurma dan Nasi Uduk dalam Semangkuk ‘Sup
Ayam’
Pak Arya dalam memaparkan materinya lebih
banyak memberikan contoh bagaimana mengambil kisah inspiratif dari
peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Salah satunya yang menarik
perhatian adalah Pak Arya mencontohkan tukang nasi uduk yang biasa jualan di
dekat rumahnya. Tukang nasi uduk ini, tutur beliau, sering sekali memberikan
kelebihan gorengan untuk setiap pembelinya. Ketika dilemparkan ke audiens untuk
ditanyai dimana sisi inspiratifnya, banyak juga yang menganggap hal itu biasa
saja. Akhirnya Pak Arya membeberkan darimana kita bisa mengambil sisi
inspiratifnya.
Untuk menjelaskannya, Pak Arya mengisahkan
kisah asbabun nuzul surat Al-Lail. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas r.a. bahwa
di rumah seseorang ada sebatang pohon kurma yang ujungnya condong ke atas rumah
tetangganya yang fakir. Ketika orang itu memanjat kurma untuk memetik buahnya,
maka pohon kurma tersebut bergoyang-goyang dan beberapa buah kurma telah masak
berjatuhan di pekarangan rumah tetangganya itu. Kemudian buah kurma yang
terjatuh tersebut diambil oleh anak-anak tetangganya yang miskin itu.
Setelah selesai
memetik buah kurma, orang tersebut turun, kemudian pergi menuju rumah
tetangganya, lalu merampas kurma-kurma yang berada dalam genggaman anak-anak
tetangganya itu, bahkan buah kurma yang sudah dimakan pun dikeluarkan dengan
cara memasukan jari ke dalam mulutnya. Orang miskin itu menghadap Rasulullah
saw dan mengadukan hal itu kepada beliau. Setelah mendengar pengaduan itu,
Rasulullah berkata kepada si pemilik kurma tadi, seandainya ia mau mewakafkan
pohon kurmanya untuk beliau, maka beliau menjaminkan satu pohon kurma di surga.
Akan tetapi, pemilik pohon kurma tersebut tidak mau mewakafkannya. Justru ia
memberikan harga atas pohon kurmanya. Sahabat lain yang juga mendengar hal
tersebut mendatangi Rasulullah dan menanyakan apakah jika ia membeli pohon
kurma tersebut kemudian diwakafkan untuk beliau, dia juga diberikan jaminan
mendapat satu pohon kurma di surga. Rasulullah mengiyakan. Tidak menyia-nyiakan
kesempatan, akhirnya sahabat tersebut membeli beberapa pohon kurma itu dan
diwakafkannya ke Rasulullah SAW sehingga ia mendapat jaminan pohon kurma di surga.
Subhanallah…
Nhah, dari
kisah di atas sudah tahu kan apa inspirasi dari cerita Tukang Nasi Uduk yang
selalu melebihkan gorengan untuk para pembelinya? Tidak mudah bagi seseorang
untuk bersedekah terhadap orang lain, apa lagi dengan kondisi keterbatasan yang
dialaminya. Tukang nasi uduk yang juga mempunyai keterbatasan ekonomi tetap
berusaha berbagi dan bersedekah dengan keterbatasan di saat mungkin banyak
orang yang kecukupan dan kaya raya masih merasa berat untuk menyisihkan sedikit
hartanya untuk bersedekah.
Tips Meramu ‘Sup Ayam’ yang Gurih nan Segar
Dalam kesempatan ini pula Pak Arya juga
memberikan tips dalam menulis kisah inspiratif. Pertama, “Dalam menulis kisah
inspirasi, kita hanya perlu melihat di sekeliling kita,” tutur Pak Arya. Ya,
mencari ide kisah inspirasi sebenarnya sangat gampang. Kita hanya perlu peka
terhadap keadaan di sekeliling kita. Peristiwa apa saja bisa jadi inspirasi
jika kita mampu melihatnya dari sudut pandang kemanusiaan. Ke-dua, setelah
menemukan ide, kita perlu merenungkannya. Cari tahu pelajaran apa yang bisa
kita ambil dari kisah inspiratif yang hendak kita tulis tersebut. Tips
selanjutnya, kita juga dapat menuliskan kisah inspiratif dari cerita sejarah.
Banyak cerita sejarah yang akhirnya diceritakan kembali menjadi kisah
inspiratif. Terakhir, kita beri sedikit bumbu fiksi untuk membuat kisah semakin
hidup dan gurih.
Eits, tapi
kebanyakan penulis dalam menuliskan kisah inspiratif terjebak dalam bahasa yang
seolah menggurui pembacanya. Bahasa ini sering kali tidak disukai oleh pembaca.
Untuk menghindari hal tersebut, Pak Arya juga memberikan saran dalam menulis
kisah inspiratif:
1. Hindari kalimat yang mendikte pembaca.
2. Sajikan cerita yang utuh, tetapi tetap
mengarahkan ke satu fokus agar pembaca bisa mengetahui nilai apa yang hendak
penulis sampaikan dari kisahnya.
3. Hati-hati memilih kata. Gunakan kata-kata yang
secara tidak langsung mengarahkan ke nilai-nilai yang dimaksud penulis.
Finally,
sudah ada gambaran kan bagaimana menulis ‘sup ayam’ yang gurih nan segar? Mari
kita mulai peka dengan keadaan di sekitar kita, ambil sisi insprasinya, renungkan,
dan kisahkan agar banyak orang juga tahu apa nilai yang hendak kamu sampaikan
dari kisahmu.
Tegal, 17 Mei 2015

Komentar
Posting Komentar